Berkunjung Ke Museum Purba Sangiran Klaster Ndayu, Karanganyar

Posted on Updated on

#Travel- Akhir pekan adalah waktu bersama keluarga, Kali ini saya bersama istri dan anak mengunjungi salah satu museum yang terletak di Kabupaten Karanganyar, yaitu Museum Purbakala Klaster Ndayu. Museum yang terletak di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Tiket masuk ke museum ini adalah Rp.5000/orang dan parkir Rp.5000, jadi biaya yang saya keluarkan untuk bertiga di museum ini hanya Rp.15.000 saja, karena anak 3 tahun tidak dihitung.

Pertama kali masuk kesini, dilobby terdapat beberapa koleksi peninggalan dari flora fauna yang sudah ada sejak jutaan tahun silam. Di Museum ini kami diperkenalkan mengenai Informasi yang terpendam dalam lapisan-lapisan tanah purbakala. Museum yang dibangun sejak 2013  merupakan salah satu bagian dari 5 museum yang ada di Sangiran.

Disini putri kami palling tidak bisa lebih kenal mengenai kehidupan yang sudah ada sejak 100 ribu hingga 1,8 juta tahun yang lalu. Meskipun belum mengerti-mengerti banget paling tidak dia sudah ada bayangan tentang kehidupan manusia purba.

Saya sendiri malah baru tahu kalau lahan Museum Ndayu ini merupakan lahan  khusus dipilih dan dirancang sebagai sajian contoh lapisan tanah dari 4 zaman yang sudah ada 1,8 juta tahun silam, Museum Dayu sendiri merupakan pusat informasi tentang perlapisan tanah purba dan budaya manusia jenis Homo erectus terlengkap.

Sebagai bagian dari sejarah museum Dayu, ada tiga jenis ruang display yang terdapat di museum ini yaitu ruang shelter atau anjungan, ruang diorama, dan ruang pamer. Ruang anjungan terbagi lagi menjadi tiga yaitu anjungan Notopuro, Kabuh dan Grezbank. Di anjungan Notopuro memuat koleksi fosil tulang paha (femur) Elephantidae, pada anjungan Kabuh ada koleksi fosil tengkorak (cranium) Benteng Bibos Paleosondaicus, sedangkan anjungan Grezbank memiliki koleksi gading gajah (incisivus) Elephantidae.

Disetiap ruangan anjungan ini terdapat anjungan yang dilengkapi dengan multimedia interaktif yang bisa dimainkan oleh anak-anak maupun dewasa untuk menguji pengetahuan tentang Kepurbakalaan.


Menurut saya sih, Klaster Ndayu memang museum edukasi yang cocok buat anak-anak. Disini terdapat semacam lokasi bermain anak yang juga sering dimanfaatkan untuk beristirahat, juga terdapat mushola dan toilet. Konon  kawasan ini adalah sisa rawa – rawa yang terbentuk sekitar 1,8 juta tahun lampau.

Terdapat juga sebuah jembatan diseberangnya terdapat Ruang Diorama. Ruang Diorama menempatkan informasi mengenai aktivitas perburuan yang dilakukan oleh manusia purba. Di pintu selatan ruang Diorama, terdapat Ruang Pamer 1 yang memajang rangka banteng purba, fosil tengkorak manusia purba dan profil para peneliti yang mempelajari tentang zaman purba.

Setelah satu jam lebih mengelilingi Klaster Ndayu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan jalan -jalan ketempat lainnya. Lumayan lah buat refresing sama keluarga dan nambah pengetahuan tentang kepurbakalaan. Gimana teman-teman pembaca? pernah kesini kan?

13 respons untuk ‘Berkunjung Ke Museum Purba Sangiran Klaster Ndayu, Karanganyar

    Djangkaru Bumi said:
    16 Oktober 2019 pukul 7:46 PM

    Museum yang benar-benar mengandung nilai edukasi banget
    Wah jadi ingin kesana nih
    Lapisan tanah yang usianya ratusan ribu tahun wow banget

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:54 AM

      iya om, disini banyak ditemuin benda dan fosil purba..tiap kedalaman beda beda

    Avant Garde said:
    16 Oktober 2019 pukul 2:53 PM

    jadi sekarang museumnya ada 2 ya mas, museum sangiran sama museum dayu yah…

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:55 AM

      malah ada 5 om, yang lain blm saya kunjungi..baru dua saja nih hehe..banyak kan?
      kapan dolan museum?
      kan salah satu hobby jenengan tuh..

        Avant Garde said:
        24 Oktober 2019 pukul 3:38 PM

        kapan2 pulkam hehe… yg 3 lagi apa aja mas?

    Rahma balci said:
    15 Oktober 2019 pukul 11:36 PM

    nama sangiran terkesan familiar..dulu kl belajar sejarah2 manusia purba di İndonesia selalu merujuk ke sangiran, menarik museumnya, ini emang pas sepi apa biasa sepi pengunjung?

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:56 AM

      rata rata pengunjung disini memang tak sebanyak yang sangiran kak..
      karena ndayu belum terlalu dikenal banyak orang..
      jadi sepi dan lebih leluasa…

    mesra berkelana said:
    15 Oktober 2019 pukul 8:21 PM

    Aku baru tahu lho mas, kalo di Karanganyar ada museum gini. Di zaman skrg ini ketertarikan pergi ke museum itu susah lho, kalo lihat dari museum Ndayu ini rasanya bikin tertarik gitu karena ga terkesan kuno.

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:57 AM

      bener banget, jaman sekarang orang ke museum itu jarang…
      padahal wisata kayak gini sebenarnya menambah pengetahuan, literasi dan edukasi loh..

    maureenmoz said:
    14 Oktober 2019 pukul 12:01 PM

    Iya.. Sy dan klg mengunjungi museum ini 2015 (kalau ngga salah) .. Syukurlah sampai tahun ini kondisinya masih bagus ya.. Smg tetap terawat..

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:57 AM

      kalau kondisinya memang sangat terawat kak..

    ekahei said:
    14 Oktober 2019 pukul 3:39 AM

    Menarik museummm nyaa plus bersih gituh dan rindang. Menariknya Multimedia interaktif gituh , jadi menepis anggapan klo museum itu berhubungan dgn kuno gimanaa gituh.
    .
    Nice info 🙂

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2019 pukul 1:58 AM

      kalau museum ndayu malah kesannya minimalis serta futuristik, meski beda2 didalamnya fosil purba semua..

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s