Sholat Jumat dan Ziarah di Masjid Menara Kudus

Posted on Updated on

#Travel – ‘Akulturasi Islam dalam menyebarkan agamnya, Masjid menara kudus adalah bukti alkulturasi Hindu Budha dan Islam’. Siang itu saya ditemani sopir melakukan perjalanan menuju ke kota Solo dari Jepara. Kebetulan Kudus adalah kota yang ingin saya lewati. Bertepatan dengan hari Jumat, saya lewat kudus sekitar pukul 10.30 siang. Bingung mau kemana? Saya jadi teringat kota Kretek ini mempunyai Masjid yang cukup terkenal yaitu Masjid Menara Kudus.

Karena ini baru pertama kalinya ke Masjid yang membuat penasaran saya, saya sempat muter beberapa kali untuk mencari parkir. Akhirnya sampailah saya di Masjid Menara. Masjid adalah bangunan tempat peribadatan kaum muslim yang memiliki beragam konsep dan rancangan arsitektur. Selain memiliki sejumlah desain dan arsitektur, beberapa masjid yang sudah berdiri sejak lama memiliki sejarah dan budaya yang menarik untuk ditelusuri. Salah satu masjid kuno yang memiliki desain arsitektur, sejarah dan unsur budaya akulturasi adalah masjid menara kudus, yang berlokasi desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Pertama datang kesini, saya melewati pasar atau toko-toko cinderamata yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas kudus hingga cinderamata serta peralatan hingga baju muslim. Karena sudah mau jumatan, beli oleh-olehnya nanti saja pas pulang terutama jenang kudus, sama kerupuk petis ala pantura.

Terkagum saya pertama kali melihat Masjid Menara Kudus yang melukiskan perpaduan antara Hindu dan Islam. Menara kudus sungguh istimewa, berbentuk seperti candi hindu yang lebih bercorak Jawa Timur. Menurut referensi yang say abaca di bangunan tersebut, Menara  Kudus mempunyai bagian dasar berukuran 10 x 10 m dan tinggi sekitar 18 meter. Di sekeliling menara ini terdapat hiasan piring-piring bergambar yang jumlahnya 32 buah. Dari 32 hiasan piring ini ada 20 yang bergambar masjid manusia dengan unta dan pohon kurma dengan warna. Dan 12 sisanya bergambar bunga dengan warna merah.

Tak lama kemudian jamaah sholat Jumat mulai berdatangan, saya sebenarnya tidak pede sholat disini karena menggunakan kaos, sedangkan yang lain menggunakan baju muslim ala santri dan kyai semua. Tapi mau gimana lagi, namanya juga musafir he..he..he..

Ngomongin Soal Masjid Menara, masjid ini adalah masjidyang di dirikan oleh Syekh Jafar Sodiq atau lebih dikenal dengan istilah Sunan Kudus, salah satu walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah jawa tahun 1549 Masehi yang lalu. Nama ini sendiri terdapat pada sebuah prasasti yang terpasang di bagian atas mihrab dan menyatakan bahwa masjid itu bernama Masjid Al Aqsha di negeri Al Quds yang sekarang populer dengan nama Masjid Menara Kudus.

Setelah mengambil air wudhu dan memasuki wilayah Masjid, terlihat sekali bahwa masjid ini adalah perwujudan bangunan hasil akulturasi antara dua kebudayaan Hindu-Jawa dengan Islam. Budaya Hindu-Jawa sendiri tercermin dari bangunan yang mirip candi yang berada di pelataran masjid hingga didalam masjid. Sedangkan budaya Islam terlihat dari menaranya yang sekarang digunakan untuk adzan.

Akulturasi dari masjid ini juga tercermin dari corak bagian gapura dan juga pada bagian dalam masjid yang memiliki sepasang gapura kuno yang disebut dengan “Lawang Kembar”. Akulturasi sendiri merupakan percampuran dua budaya atau lebih yang tidak menghapus budaya aslinya. Keren banget kan Sunan Kudus waktu itu?

Oh iya, di Tempat wudlu juga memiliki delapan pancuran dan juga dilengkapi arca yang diletakkan di atasnya. Konsep arsitektur tempat wudlu seperti ini sendiri diyakini mengadaptasi dari keyakinan Budha yaitu Delapan Jalan Kebenaran atau Asta Sanghika Marga. Selian tempat wudlu, dibelakang masjid juga ada juga kompleks makam

Setelah sholat jumat selesai, saya pun ziarah ke Makam Sunan Kudus dan Para ahli warisnya seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, dan lain-lain. Makam disini jauh dari kesan angker seperti di film yang lagi hit ‘Pengabdi Setan’ hehe.. Komplek makam Sunan Kudus terlihat rapi terstruktur dan wangi. Bahkan ketika saya menuju makam, tampak sekali aura kewibawaan dari makam tersebut, mengingat Sunan Kudus adalah salah satu wali Allah jadi banyak sekali para peziarah yang mendoakannya.


Oh iya sewaktu selesai sholat jumat, disana di bagikan makanan khas dari Masjid Menara Kudus yaitu tapi saya lupa namanya kuliner apaan. Karena porsinya sedikit kami tetep mampir warung makan terdekat dan merasakan Nasi Pindang Kudus yang menurut saya mirip kayak Nasi Gandul.

Iklan

10 respons untuk ‘Sholat Jumat dan Ziarah di Masjid Menara Kudus

    Totoraharjo said:
    20 Oktober 2017 pukul 12:48 AM

    enak enak bacaa sejarah islahmya endingnya makanan…. garaai ngelih ae broooo ahhaa

    BaRTZap said:
    18 Oktober 2017 pukul 8:15 PM

    Pelataran sekitar makam, masjid, dan menara Sunan Kudus ini sudah banyak berubah. Beda jauh dengan masa aku kecil dulu -ya iyalah pasti-. Aku sih lebih suka yang jaman dulu, karena masih banyak rerumputan di sekitarnya, jadi lebih terkesan ‘mau menerima air’ untuk diserap ke dalam tanah. Memang sih paving block itu juga menyerap air, tapi kesannya jadi gimanaaa gitu.
    O iya, dulu di sekitar makam juga banyak pohon jambu airnya, cuma ukurannya yang kecil-kecil. Ada yang berwarna merah dan putih, rasanya agak masam dibandingkan jambu air yang besar. Dulu kalau berbuah, suka kita petikin rame-rame 😀
    Ah jadi kangen pulang ke Kudus deh setelah baca postinganmu ini mas 🙂

      mysukmana responded:
      20 Oktober 2017 pukul 2:24 AM

      sekarang di paving semua mas..nek jambu air kelingan ngarep omahe mbahku dulu mas..penuh pohon jambu..
      mas minta nomor WA mu dong, kirim email saja hehe

    zaki19482 said:
    18 Oktober 2017 pukul 4:13 PM

    jadi inget novel PENANGSANG setelah foto2 tadi. Ada nama panembahan Palembang. apa berasal dari Palembang ya? #penasaranaja

    bersapedahan said:
    17 Oktober 2017 pukul 5:35 PM

    keren banget arsitektur mesjid ini .. pernah sekali kesini .. waktu kecil .. hehe diajak orang tua, kayaknya mesti kesini lagi nih

    salma said:
    16 Oktober 2017 pukul 8:27 PM

    seneng banget kayanya bisa kesana, kunjung balik ya

    Johanes Anggoro said:
    16 Oktober 2017 pukul 12:47 PM

    Salah satu masjid yg unik di Indonesia. Sebenarnya masjid-masjid tradisional seperti ini lah yg menjadi ciri khas Indonesia. Selain atap joglo dan limasan 😀

    Nasirullah Sitam said:
    16 Oktober 2017 pukul 11:01 AM

    Beberapa kali saya sengaja motret di sini, tapi nggak salah di masjidnya. Pas ke sini udah selesai salat hehehehhe

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s