Masjid Jami’ Lasem hingga Ziarah Makam Para Pendiri Lasem

Posted on Updated on


#Travel – “Jika ingin mengingat perjuangan seseorang semasa hidupnya, datangilah seperti apa makamnya”. Siang itu setelah jalan-jalan ke daerah pedesaan wilayah Rembang, mobil yang saya tumpangi melewati lasem. Tepat di pojok jalan saya melihat masjid yang unik bentuknya. Waktu adzan pun berkumandang, dan saya minta pak sopir berhenti untuk melaksanakan sholat Dhuhur.

Setelah mengambil air wudhu dan sholat berjamaah, saya menyempatkan untuk berkeliling masjid. Saya baru sadar kalau nama dari Masjid ini adalah Masjid Jami’ Lasem yang terkenal itu dan sebagai pusat wisata religi. Saat berada disana masjid sedang dalam tahap renovasi. Tidak terlalu banyak peziarah yang datang, setahu saya hanya satu rombongan bus saja yang saya lihat.

Menuju kebelakang masjid, terdapat beebrapa makam para ulama. Diantaranya adalah Tokoh Pendiri Agama Islam di Lasem seperti makam Eyang Sambu, Mbah Srimpet, Mbah Ma’sum dan beberapa ulama terkenal di Lasem.

Sejarah mengatakan Masjid ini dibangun sekitar tahun 1500 an masehi pada masa adipati Teja Kusuma 1 dan seorang ulama yaitu Sayyid Abdurahman. Tokoh tokoh tersebut masih ada hubungan dari Sunan Kalijaga dan trah Kerajaan Majapahit termasuk keluarga dari Jaka Tingkir. Ternyata makan para wali –wali di pantura masih ada hubungan yang sangat erat seperti yang saya kunjungi sebelumnya di bulan lalu.



Lalu makam yang saya kunjungi adalah makan dari adipati R.M Tejakusuma I (Mbah Srimpet) dan juga Walinagara Sayyid Abdurahman (Mbah Sambu) inilah LASEM bisa mempunyai sebuah masjid sebagai tempat beribadah dan syiar agama islam di Lasem hingga bisa bertahan sampai saat ini.Masjid dan makam yang penuh dengan ukiran khas jati tampak berdiri kokoh dan sangat berwibawa. Seperti kewibawaan para wali-wali Allah yang berada di pantura pada saat menyebarkan agama Islam.

Lalu saya menuju di sebelah barat laut masjid juga terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama makam Mbah Sambu yang dikatakan merupakan seorang Cina yang menyebahkan agama Islam di daerah ini pada masa Tejokusumo I. Makanya di daerah ini muslim, jawa, arab serta keturunan cina hidup saling berdampingan.

Di sebelah utara masjid juga terdapat bangunan terbuka yang terdapat makam-makam yang tidak dikenali identitasnya, namun juga terdapat berjajaran batu batu nisa yang tampak dengan jelas bahwa kompleks kuburan ini juga sudah cukup tua.

Bahkan saya juga melihat suatu monument yang terletak di sebelah kuburan yang disebut dengan Babad Lasem. Yang berisi ajakan dari Kyai Ali Badawi kepada seluruh umat muslim di Lasem, bahwa setelah sholat jumat untuk melawan para kompeni belanda hingga titik darah penghabisan. Perang tersebut merupakan perang Sabilillah.



Konon pada saat perang Kyai Ali Baidawi bersatu bersama pasukan Tan Khe Oey dari keturunan cina bersatu untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda saat menduduki tanah jawa khususnya Lasem. Bisa bayangkan, warga keturunan Tiong Hoa dan Pribumi bersatu untuk melawan Belanda. Demi meribut kemerdekaan saat itu. Saya pribadi miris terkadang kalau sekarang masih banyak gap antar etnis yang membeda-bedakan khususnya Cina dan Jawa di jaman sudah merdeka seperti ini. Mungkin mereka tidak tau sejarah kali ya..? Dan yang terpenting mari doakan para pejuang-pejuang dan orang-orang yang sudah mendahului kita.

Iklan

8 thoughts on “Masjid Jami’ Lasem hingga Ziarah Makam Para Pendiri Lasem

    Yusri Mathla'ul Anwar said:
    2 November 2017 pukul 3:04 PM

    Arsitektur masjid nya bagus sekali

    bersapedahan said:
    17 Oktober 2017 pukul 5:31 PM

    Fasad mesjid-nya kurang Lasem ya … renovasi mesjid membuatnya jadi lebih berkesan modern

    Dede Ruslan said:
    14 Oktober 2017 pukul 9:59 PM

    Ini namanya persatuan Indonesia, mau apapun suku dan etniknya tujuannya satu yaitu merdeka dari penjajah..

    BaRTZap said:
    12 Oktober 2017 pukul 8:43 PM

    Menjawab ‘kegalauan’ di paragraf terakhir, aku rasa itu karena kita tidak mempunyai musuh bersama pada saat ini. Sehingga gap antar etnis menjadi besar. Pada saat itu khan penjajah Belanda menjadi musuh bersama, maka etnis-etnis itu dapat bersatu. Menurutku di masa ini, hal itu juga seharusnya dicari. Tapi musuhnya beda ya ,,, misalnya kemiskinan, ketidakadilan, dan lain-lain. Sesuatu yang memang pantas kita musuhi dan kita lawan, agar kita sejahtera bersama. Imho 🙂

      mysukmana responded:
      12 Oktober 2017 pukul 9:37 PM

      musuh nyata saat ini adalah ego diri sendiri mas..fix kan itu namanya..

        BaRTZap said:
        12 Oktober 2017 pukul 9:39 PM

        Leres mas 🙂

    jelajahlangkah said:
    12 Oktober 2017 pukul 12:48 PM

    Saya sangat menyukai detail bangunan lengkap dengan gaya arsitekturnya, apalagi ada nilai historisnya. Tentunya akan menarik jika bisa mengabadikannya lengan mata lensa; dan tentu saja akan menambah wawasan kita … biar nggak dibilang kurang piknik.

    Bangunan dengan gaya arsitekturnya akan saya nikmati berlama-lama, sambil mengagumi yang mendirikannya. Tak perduli apakah itu masjid, pura, vihara, gereja atau monumen.

    Asyik tulisannya, mas.

    Gara said:
    12 Oktober 2017 pukul 10:23 AM

    Dari makam, kita bisa belajar banyak tentang sejarah ya, Mas. Tidak cuma soal orang yang dimakamkan. Tapi juga soal masyarakat dan dinamikanya saat itu. Dengan demikian, kita bisa lebih tahu peran dari orang yang dimakamkan itu.
    Mudah-mudahan saya bisa berkunjung ke Lasem nih, Mas. Habisnya, saya sudah banyak banget baca tulisan blog yang bahas soal Lasem. Masa belum pernah ke sana, hihi.

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s