Kehidupan Nelayan di Sarang, Rembang Pesisir Pantai Utara

Posted on Updated on

#Special Invitation – “Kebersihan merupakan bagian dari keimanan”, Pantai Utara atau yang sering disingkat dengan pantura, merupakan wilayah yang terkenal akan para santrinya. Siang itu, setelah makan siang saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Nelayan. Selama perjalanan, banyak bangunan-bangunan masjid yang berdiri dengan kokoh dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi dilangit di sepanjang jalan yang saya lewati. Ya..ini adalah salah satu ciiri khas masjid di pesisir pantai utara.

Selain masjid, sepanjang jalan saya disuguhkan oleh pemandangan lepas pantai yang begitu indah, karena antara jalan raya dengan garis pantai saling berdampingan. Tidak lama kemudian mobil yang saya tumpangi berhenti disebuah desa pinggir pantai.

Saya pun turun bersama rombongan, kami berjalan melewati sebuah gang dengan ujung laut. Selama berjalan kurang lebih 200 meter, terlihat bangunan rumah-rumah kecil milik nelayan desa sarang. Selama perjalanan kami ditemani oleh beberapa tim dari BMT Bus seperti mas Udin, Pak Mirza dan Ibu Amrih. Mereka menjelaskan keadaan kampung nelayan di desa sarang ini, bahwasanya kampung nelayan ini keadaan warganya masih jauh dari keberadaan air bersih dan sanitasi yang kurang memadai.

Saat sampai di tepi pantai, saya melihat banyak kapal nelayan yang bersandar di tepi pantai dengan pantai yang saya lihat memang pantainya sangat kotor dan tidak terurus mengenai sampah, wilayah yang kumuh dan sangat bau adalah predikat yang cocok saya sematkan untuk kampung nelayan Desa Sarang. Meskipun dalam keadaan seperti ini, tidak menyurutkan semangat anak-anak nelayan bermain di pantai serta tetap belajar agama di masjid-masjid terdekat.

Sarana sanitasi dan air mereka pun sangat minim sekali. Ironisnya lagi, rata-rata mereka yang belum mempunyai air bersih masih menggunakan kamar mandi umum dan sanitasinya langsung di buang ke hilir sungai yang langsung ke laut, tidak melalui pembuangan khusus atau septitank. Bahkan ada beberapa warga bercerita kalau buang air besar juga masih di laut langsung.

Namun, sejak adanya program khusus dari BMT Bus serta water.org serta ajakan pentingnya untuk hidup bersih, mereka lama-lama menyadari dan berusaha merubah pola hidup mereka. Sebut saja ibu Ufiyah, dia adalah istri nelayan yang sering ditinggal suaminya sekali melaut hingga 10 hari. Penghasilan yang rata-rata sekali melaut hanya 500 ribu dan bisa lebih membuat suami dan ibu Ufiyah ingin merubah pola kehidupannya menjadi hidup bersih.

Sebelum ada program sanitasi dan air bersih, bu Ufiyah dan suami masih sering membuang air besarnya ke laut beratap langit. Bahkan mereka rela juga ketika punya hajat di malam hari berjalan hingga sampai pantai. Namun sejak ada BMT Bus serta water.org, kini bu Ufiyah sudah bisa menikmati sarana air bersih yang langsung disambungkan dari PDAM terdekat.


Walau awalnya bu Ufiyah merasa keberatan dengan kredit tersebut, kini setelah merasakan manfaatnya bu Ufiyah sadar betul mengenai pentingnya air bersih dan sanitasi yang memadai. Bahkan beberapa warga yang saya liat kemarin sempat menanyakan ke mas Udin (salah satu pelaksana BMT Bus) tentang bagaimana caranya supaya mendapatkan sarana air bersih yang memadai seperti tetangganya yaitu bu Ufiyah.

Meskipun belum semuanya warga kampung nelayan bisa merasakan hal yang sama, namun rata-rata mereka sedikit-demi sedikit sudah mulai berusaha mengubah pola hidup mereka. Apalagi kawasan ini adalah kawasan santri, malu dong pastinya jika keimanan mereka tidak diimbangi dengan kebersihan.

NB : Tulisan ini dibuat  atas undangan water.org

Iklan

25 thoughts on “Kehidupan Nelayan di Sarang, Rembang Pesisir Pantai Utara

    jelajahlangkah said:
    9 Oktober 2017 pukul 12:22 PM

    Sampah, selalu jadi dilema. Padahal ada secarik kalimat “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Kalau tidak bersih berarti tidak…

    Aah, perjalanan masih panjang untuk membuat para penduduk sadar akan arti kebersihan ya mas… Tetap semangat untuk menebarkan benih “kebersihan”, mas

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:47 PM

      kalau di urai masalahnya sih sebenarnya simple..cuma kesadaran mereka saja kak..

        jelajahlangkah said:
        10 Oktober 2017 pukul 5:04 PM

        Iya, mas. Mungkin karena sudah lama hidup mereka seperti itu. Jadi ketika ada suatu perubahan, seringkali ada resistensi. Benar nggak sih?

          mysukmana responded:
          10 Oktober 2017 pukul 5:36 PM

          Nah itu..blm bs menerima perubahan

    abesagara said:
    8 Oktober 2017 pukul 5:58 PM

    Waduh, itu gimana pemandangan lautnya ya? Masa ntar ada benda kuning terapung-apung dilautan? Tapi alhamdulilah masyarakat sudah mulai sadar ya. Kalau dikelola dengan baik, desa nelayan ini bisa dijadikan salah satu kampung wisata tuh. Prioritasnya adalah edukasi tentang kebersihan kepada masyarakat desa. Trims untuk sharingnya mas. (idiotraveler.com)

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:48 PM

      nah itu mas..kata ibunya banyak pemandangan kuning..tapi terurai dimakan ikan mungkin ya hehehe

    Doni Nurdiansyah said:
    7 Oktober 2017 pukul 5:24 PM

    sampahnya itu ganggu banget mas,,kalo dikelola pasti bikin enak dilihat, hehehe

      mysukmana responded:
      7 Oktober 2017 pukul 7:35 PM

      iya bener…cuma mindset mereka beda klo ngelola sampah mas..

      mysukmana responded:
      9 Oktober 2017 pukul 8:03 AM

      iya mas bro..gak enak dilihat pastinya..tempatnya bau hehe..tapi dikit sedikit mereka harus disadarkan 🙂

    ikromzain said:
    7 Oktober 2017 pukul 8:19 AM

    aduh seneng banget itu anak2 bisa maen terus di pantai
    iya sih kebersihan kan sebagian dari iman ya

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:48 PM

      seneng sih seneng kak..tapi kotor hehehe

    Frany Fatmaningrum said:
    5 Oktober 2017 pukul 9:07 PM

    Pantura banyak santri ya, baru tau. Aku taunya pantura identik dengan dangdut pantura. Haha.
    Sampahnya nggilani.
    Aku baru sadar, orang segitu gak peduli pentingnya sanitasi.

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:50 PM

      iya ajur sri sampahnya..dangdut pantura bagi kalangan tertentu..tapi bagi muslim para wali dari pantura semua termasuk wali9

    Djangkaru Bumi said:
    5 Oktober 2017 pukul 8:04 PM

    Mengajak orang untuk berbuat baik atau mengajak untul menjadi lebih baik itu memang tidaklah mudah. Ceritanya kok mriip dikampung saya, jarang yang memiliki sanitasi bersih. Eh ke kali/sungai lebih praktis. Tapi kini mulai sadar betapa pentingnya nilai kebersihan dan kesehatan.
    Ayo ah itu pantainya dibersihkan, jangan buang sampah sembarangan.

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:51 PM

      iya susah mas..apa apa di sungai sama laut..mungkin bagi mereka nyaman..tapi bagi saya..hmm..berpikir dua kali

    nyonyasepatu said:
    5 Oktober 2017 pukul 6:33 PM

    duh sampahnya ganggu banget ya

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:49 PM

      iya kak cukup mengganggu..

    adelescarlet said:
    5 Oktober 2017 pukul 1:00 PM

    duh,, sedihnya ngeliat sampah2 begitu di pantai..
    semoga aja daerahnya menjadi lingkungan yang lebih baik ya..

      mysukmana responded:
      10 Oktober 2017 pukul 4:51 PM

      semoga pak ganjar gubernur jateng tau ni

    Liza Fathia said:
    5 Oktober 2017 pukul 10:38 AM

    Wah sama nih dengan kondisi pantai di tempat tinggalku. Penuh dengan sampah. Miris sekali melihatnya memang. Dan yang paling memiriskan adalah penjual di sekitar pantai membuang sampah ke laut. Hiks

      mysukmana responded:
      5 Oktober 2017 pukul 10:55 AM

      nak itu gimana tuh. beberapa warga Indonesia kurang mencintai keindahan alamnya. kasiahan..udah dikasih serpihan surga tp gak di rawat..

    ekahei said:
    5 Oktober 2017 pukul 9:09 AM

    Sampahnya… 😦

    Cerita yang sama di pantai kampung saya, Pariaman– sampai di bilang wc terpanjang di dunia saking dulunya penduduknya suka pup di sepanjang pinggir pantai (cerita ini dapat dari seorang teman heheh nggak tahu kebenaran apa ngggak),
    yang jelas saat ini Alhamdulillah sudah layak dijadikan tempat bermain 🙂

      mysukmana responded:
      5 Oktober 2017 pukul 10:56 AM

      oya..daerah mana kak tempat kamu tinggal?

    Novita Rosyida Hilmi said:
    5 Oktober 2017 pukul 8:34 AM

    semoga semakin baik lagi, banyak yang sadar akan pentingnya sanitasi

      mysukmana responded:
      5 Oktober 2017 pukul 10:56 AM

      iya kak novita..penting itu..apalagi klo pagi pagi ya kak hehe

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s